Jumat, 22 Desember 2017

Rekayasa Nilai / Value Engineering

LANDASAN TEORI

2.1.    Value Engineering
Value engineering atau rekayasa nilai merupakan sebuah teknik pengendalian biaya terhadap suatu produk. Rekayasa nilai bertujuan untuk memberikan performa yang optimal dari suatu produk setelah konsumen mengeluarkan sejumlah uang dengan memakai teknik yang sistematis untuk menganalisis dan mengendalikan total biaya produk. Rekayasa nilai akan membantu memisahkan antara yang fungsi yang benar-benar penting dan diperlukan dengan yang tidak begitu penting dan diperlukan, dimana nantinya dapat dikembangkan alternatif konsep produk yang memenuhi keperluan (dan meninggalkan yang tidak perlu) dengan biaya terendah. Teknik ini menganalisis nilai terhadap fungsinya. Dalam hal ini, ditekankan pengurangan biaya sejauh mungkin dengan tetap memelihara kualitas, estetika, keamanan serta realibilitas suatu produk  yang diinginkan.

2.1.1. Pengertian
Adanya kesepahaman dan pengertian yang sama mengenai rekayasa nilai sangatlah diperlukan oleh tim rekayasa nilai dan pihak - pihak yang terlibat didalamnya guna memperoleh hasil kerja rekayasa nilai yang optimal sesuai dengan kebutuhan berdasarkan prinsip dan metode yang tepat.
Menurut Dell’Isola (1975), rekayasa nilai merupakan pendekatan sistematis untuk mendapatkan nilai optimal pada setiap biaya yang dikeluarkan. Dimana diperlukan suatu usaha kreatif untuk menganalisis fungsi dengan menghapus atau memodifikasi penambahan harga yang tidak perlu dalam proses pembiayaan konstruksi, operasi atau pelaksanaan, pemeliharaan, pergantian alat dan lain-lain.
Sedangkan Kelly dan Male (1993) berpendapat bahwa rekayasa nilai adalah proses yang dilakukan untuk mencapai nilai yang maksimum dari skala yang diharapkan oleh klien.
Zimmerman dan Hart (1982) dalam bukunya mengatakan bahwa rekayasa nilai merupakan teknik manajemen yang telah teruji dengan menggunakan pendekatan sistematis untuk mendapatkan keseimbangan fungsional yang terbaik antara biaya, keandalan dan kinerja dari sebuah produk atau proyek.
Nilai dalam rekayasa nilai lebih berhubungan dengan nilai fungsi dan nilai ekonomi, karena hal ini berkaitan dengan masalah fungsi atau manfaat dan biaya pembuatan suatu produk. Menurut Isola (1975) nilai adalah imbalan yang diterima oleh pemilik atas sejumlah uang yang dikeluarkan untuk kebutuhan suatu produk. Imbalan tersebut dapat berupa uang, kebanggaan maupun yang berbentuk lain.

2.1.2. Faktor-faktor penggunaan value engineering
Menurut Tugino (2004) dalam Wibowo (2012), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan rekayasa nilai diantaranya:
1.    Tersedianya data-data perencanaan.
Data-data perencanaan di sini adalah data-data yang berhubungan langsung dengan proses perencanaan sebuah produk yang akan dibuat dan akan diadakan value engineering.
2.    Biaya awal (Initial Cost).
Biaya awal disini adalah biaya yang dikeluarkan mulai awal proses produksi sampai menjadi produk akhir yang siap dipasarkan
3.    Persyaratan operasional dan perawatan.
Dalam suatu value engineering juga harus mempertimbangkan nilai operasional dan perawatan dalam alternatif-alterantif yang disampaikan melalui analisis value engineeringdengan jangka waktu tertentu.
4.    Ketersediaan material.
Ketersediaan material disini adalah material yang digunakan sebagai alternatif-alternatif dalam analisis value engineering suatu pembuatan produk atau pekerjaan tiap item harus mempunyai kemudahan dalam mencarinya dan tersedia dalam jumlah yang cukup.
5.    Penyesuaian terhadap standart.
Penyesuaian yang dimaksud di sini adalah semua alternatif-alternatif yang digunakan harus mempunyai standart produksi baik dari segi dimensi produk, bentuk maupun kualitasnya
6.    Dampak terhadap pengguna.
Dampak terhadap penggunaan di dalam value engineering suatu produk harus mempunyai dampak positif kepada pengguna dari segi efektifitas fungsi dan harga.
2.2.    Tahapan Value Engineering
Berdasarkan pada Society of American Value Engineers International atau SAVE International(2007), metodologi rekayasa nilai merupakan sebuah proses yang sistematis yang selanjutnya disebut job plan. Job plan  tersebut terdiri atas beberapa tahapan, yaitu:
1.    Tahap informasi (Information phase).
Tahap meninjau dan menemukan kondisi terkini dari suatu produk dan mengidentifikasikan tujuan dari penelitian produk.
2.    Tahap analisis fungsi (Function analysis phase).
Mendefinisikan fungsi produk menggunakan dua kata kerja aktif. Tinjauan serta analisis dari fungsi tersebut nantinya akan digunakan untuk melakukan perbaikan, pengurangan atau menciptakan hal baru untuk mencapai tujuan penelitian produk tersebut.
3.    Tahap kreatif (Creative phase).
Menerapkan kreatifitas untuk mengidentifikasi cara-cara lainnya dalam menggunakan fungsi produk.
4.    Tahap evaluasi (Evaluation phase).
Mengikuti sebuah struktur proses evaluasi untuk memilih ide-ide yang menawarkan perbaikan nilai yang potensial.
5.    Tahap pengembangan (Developement phase).
Mengembangkan ide-ide terpilih menjadi alternatif-alternatif dengan menggunakan dokumentasi yang memadai agar pengambil keputusan nantinya dapat terbantu untuk mengimplementasikan alternatif tersebut.
6.    Tahap presentasi (Presentation phase).

Membuat sebuah laporan atau presentasi mengenai hasil dari penelitian rekayasa nilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar