Jumat, 22 Desember 2017

Definisi Sistem Politik Oligarki

Definisi Sistem Politik Oligarki
Oligarki. Adalah merupakan sistem politik dimana pihak yang memerintah terdiri atas sejumlah orang atau sekelompok orang (kelompok elit). Sekelompok elit tersebut dalam menjalankan pemerintahan selalu menggunakan segala cara agar rakyat dapat dikendalikan dan dikuasainya. 

Seperti Dikutip oleh wikipedia. Oligarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Yunani untuk "sedikit" (ὀλίγον óligon) dan "memerintah" (ἄρχω arkho).

Oleh Karena itu, sistem ini disebut juga pemerintahan dari atas yakni Negara dijadikan alat untuk mencapai tujuan kelompok elit, sehingga tujuan yang menyangkut kesejahteraan rakyat, keadilan, dan kemerdekaan perorangan biasanya tidak dapat (sulit) diwujudkan. Contoh negara yang menganut system politik oligarki pada masa silam adalah negara Yunani Kuno, dan pada masa sekarang negara-negara komunis, yang dalam kenyataannya negara dikendalikan oleh anggota anggota presidium yang kemudian mendelegasikan kepada Sekretaris jenderal dan wakil-wakilnya.

Menurut Winters, melacak oligarki sebagai “bentuk pemerintahan di mana kekuasaan politik berada di tangan minoritas kecil”. Sementara itu dasar kekuasaan dari minoritas oligarkis bersumber pada segala bentuk pengaruh minoritas yang didasakan kepada konsentrasi kekuasaan. Penjelasan diatas barangkali dapat kita cermati di Indonesia dengan munculnya politik dinasti. Dimana berbagai jenis penguasaan eksklusif atas jabatan-jabatan berpengaruh dalam suatu pemerintahan. Karakteristik utama dari Oligarki adalah berbeda dari semua minoritas lainnya, dikarenakan dasar kekuasaan oligark adalah kekayaan material. Pemahaman atas fenomena oligark dan oligarki bermula dari pengamatan ketidaksetaraan material yang sangat mencolok menghasilkan ketidaksetaraan politik secara ekstrem.


Sebagian besar teori mengenai Oligarki mendefinisikan istilah oligarki sebagai satu ragam “kekuasaan sekelompok kecil”, lalu oligark (oligarch) dimaknai sebagai pelaku yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi secara besar-besaran sumber daya material yang bisa digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi social eksklusifnya. Umumnya sumber daya tersebut harus tersedia untuk digunakan demi kepentingan pribadi , biarpun tidak harus dimilki sendiri. Berpijak pada pemikiran teori Oligarki, maka analisa atas dua kebijakan pemerintah yang dinilai kontroversi, diurai dengan metode analisis naratif.

Rekayasa Nilai / Value Engineering

LANDASAN TEORI

2.1.    Value Engineering
Value engineering atau rekayasa nilai merupakan sebuah teknik pengendalian biaya terhadap suatu produk. Rekayasa nilai bertujuan untuk memberikan performa yang optimal dari suatu produk setelah konsumen mengeluarkan sejumlah uang dengan memakai teknik yang sistematis untuk menganalisis dan mengendalikan total biaya produk. Rekayasa nilai akan membantu memisahkan antara yang fungsi yang benar-benar penting dan diperlukan dengan yang tidak begitu penting dan diperlukan, dimana nantinya dapat dikembangkan alternatif konsep produk yang memenuhi keperluan (dan meninggalkan yang tidak perlu) dengan biaya terendah. Teknik ini menganalisis nilai terhadap fungsinya. Dalam hal ini, ditekankan pengurangan biaya sejauh mungkin dengan tetap memelihara kualitas, estetika, keamanan serta realibilitas suatu produk  yang diinginkan.

2.1.1. Pengertian
Adanya kesepahaman dan pengertian yang sama mengenai rekayasa nilai sangatlah diperlukan oleh tim rekayasa nilai dan pihak - pihak yang terlibat didalamnya guna memperoleh hasil kerja rekayasa nilai yang optimal sesuai dengan kebutuhan berdasarkan prinsip dan metode yang tepat.
Menurut Dell’Isola (1975), rekayasa nilai merupakan pendekatan sistematis untuk mendapatkan nilai optimal pada setiap biaya yang dikeluarkan. Dimana diperlukan suatu usaha kreatif untuk menganalisis fungsi dengan menghapus atau memodifikasi penambahan harga yang tidak perlu dalam proses pembiayaan konstruksi, operasi atau pelaksanaan, pemeliharaan, pergantian alat dan lain-lain.
Sedangkan Kelly dan Male (1993) berpendapat bahwa rekayasa nilai adalah proses yang dilakukan untuk mencapai nilai yang maksimum dari skala yang diharapkan oleh klien.
Zimmerman dan Hart (1982) dalam bukunya mengatakan bahwa rekayasa nilai merupakan teknik manajemen yang telah teruji dengan menggunakan pendekatan sistematis untuk mendapatkan keseimbangan fungsional yang terbaik antara biaya, keandalan dan kinerja dari sebuah produk atau proyek.
Nilai dalam rekayasa nilai lebih berhubungan dengan nilai fungsi dan nilai ekonomi, karena hal ini berkaitan dengan masalah fungsi atau manfaat dan biaya pembuatan suatu produk. Menurut Isola (1975) nilai adalah imbalan yang diterima oleh pemilik atas sejumlah uang yang dikeluarkan untuk kebutuhan suatu produk. Imbalan tersebut dapat berupa uang, kebanggaan maupun yang berbentuk lain.

2.1.2. Faktor-faktor penggunaan value engineering
Menurut Tugino (2004) dalam Wibowo (2012), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan rekayasa nilai diantaranya:
1.    Tersedianya data-data perencanaan.
Data-data perencanaan di sini adalah data-data yang berhubungan langsung dengan proses perencanaan sebuah produk yang akan dibuat dan akan diadakan value engineering.
2.    Biaya awal (Initial Cost).
Biaya awal disini adalah biaya yang dikeluarkan mulai awal proses produksi sampai menjadi produk akhir yang siap dipasarkan
3.    Persyaratan operasional dan perawatan.
Dalam suatu value engineering juga harus mempertimbangkan nilai operasional dan perawatan dalam alternatif-alterantif yang disampaikan melalui analisis value engineeringdengan jangka waktu tertentu.
4.    Ketersediaan material.
Ketersediaan material disini adalah material yang digunakan sebagai alternatif-alternatif dalam analisis value engineering suatu pembuatan produk atau pekerjaan tiap item harus mempunyai kemudahan dalam mencarinya dan tersedia dalam jumlah yang cukup.
5.    Penyesuaian terhadap standart.
Penyesuaian yang dimaksud di sini adalah semua alternatif-alternatif yang digunakan harus mempunyai standart produksi baik dari segi dimensi produk, bentuk maupun kualitasnya
6.    Dampak terhadap pengguna.
Dampak terhadap penggunaan di dalam value engineering suatu produk harus mempunyai dampak positif kepada pengguna dari segi efektifitas fungsi dan harga.
2.2.    Tahapan Value Engineering
Berdasarkan pada Society of American Value Engineers International atau SAVE International(2007), metodologi rekayasa nilai merupakan sebuah proses yang sistematis yang selanjutnya disebut job planJob plan  tersebut terdiri atas beberapa tahapan, yaitu:
1.    Tahap informasi (Information phase).
Tahap meninjau dan menemukan kondisi terkini dari suatu produk dan mengidentifikasikan tujuan dari penelitian produk.
2.    Tahap analisis fungsi (Function analysis phase).
Mendefinisikan fungsi produk menggunakan dua kata kerja aktif. Tinjauan serta analisis dari fungsi tersebut nantinya akan digunakan untuk melakukan perbaikan, pengurangan atau menciptakan hal baru untuk mencapai tujuan penelitian produk tersebut.
3.    Tahap kreatif (Creative phase).
Menerapkan kreatifitas untuk mengidentifikasi cara-cara lainnya dalam menggunakan fungsi produk.
4.    Tahap evaluasi (Evaluation phase).
Mengikuti sebuah struktur proses evaluasi untuk memilih ide-ide yang menawarkan perbaikan nilai yang potensial.
5.    Tahap pengembangan (Developement phase).
Mengembangkan ide-ide terpilih menjadi alternatif-alternatif dengan menggunakan dokumentasi yang memadai agar pengambil keputusan nantinya dapat terbantu untuk mengimplementasikan alternatif tersebut.
6.    Tahap presentasi (Presentation phase).

Membuat sebuah laporan atau presentasi mengenai hasil dari penelitian rekayasa nilai.

Memahami Kasus Bunuh Diri karena Bullying

Apa kalian Korban Bullying?
kalian depresi?
kesepian?
tidak punya teman?
atau mereka semua menghianati kamu?
rasanya sesak dihati?
ingin menghilangkan dan melupakan rasa sakit itu sekaligus?
Bunuh diri?

Atau kalian pelaku bullying secara sadar?
atau bahkan kalian tidak menyadari itu?

Saya tidak akan menjelaskan secara detail karena saya bukanlah peneliti atau ilmuan, saya masih mahasiswa yang baru kuliah tahun 2016. dan membuat artikel ini karena paksaan tugas demi keberlangsungan kuliah saya, but well... saya menyukai ini.

kembali lagi ke pertanyaan-pertanyaan diawal.

Tapi ada rekomendasi Film lebih tepatnya serial drama yang dapat menjawab itu semua.

kalian pahami dan bermainlah dengan ilmu psikologi jika kalian tertarik mempelajarinya.

serial drama dari NETFLIX "13 reasons why"

saya membuat artikel ini karena saya peduli, tapi faktanya semua orang memang peduli, tetapi tidak ada satupun yang sangat peduli.

saya jelaskan sedikit saja mengenai serial drama 13 episode ini dan jika tertarik kalian bisa streaming atau mendownloadnya di Google banyak sekali hanya search saja "streaming / download 13 reasons why"

Menonton film dengan tujuan belajar lebih bisa kalian pahami secara langsung tanpa harus repot-repot membaca tulisan ini atau di blog lainnya dan membuat kalian ngantuk.

kamu dapat mempelajari sifat-sifat manusia di film "13 reasons why" dengan masing-masing kemunafikannya dan sifat buruknya disamping kebaikannya. Percayalah, mungkin kalian salah satu dari karakter-karakter yang dipaparkan di Film ini.

Dan tentukan, kalian korban, atau tersangka.



3 Reasons Why (logo di layar kaca Th1rteen R3asons Why) adalah serial drama misteri WebTV Amerika Serikat yang berdasarkan pada novel tahun 2007 Thirteen Reasons Why oleh Jay Asher dan diadaptasi oleh Brian Yorkey untuk Netflix.[2] Serial ini berkisah tentang seorang siswa SMA, Clay Jensen dan seorang siswa lain, Hannah Baker, yang melakukan bunuh diri setelah mengalami serangkaian situasi intimidasi oleh beberapa orang di sekolahnya. Sekotak kaset yang direkam oleh Hannah sebelum bunuh diri adalah rincian tiga belas alasan mengapa dia mengakhiri hidupnya.
Diana Son dan Brian Yorkey berperan sebagai showrunners dalam serial ini, yang terdiri dari tiga belas episode.[3][4] Serial ini diproduksi oleh July Moon Productions, Kicked to the Curb Productions, Anonymous Content dan Paramount Television. Awalnya dibuat sebagai film yang akan dirilis oleh Universal Pictures dengan Selena Gomez menjadi peran utama, adaptasi tersebut diangkat sebagai serial televisi oleh Netflix pada akhir 2015. Gomez berperan sebagai eksekutif produser. Semua episode dan 13 Reasons Why: Beyond the Reasons, dirilis di seluruh dunia melalui Netflix pada tanggal 31 Maret 2017.
Serial ini mendapat banyak ulasan positif dari kritikus dan khalayak, yang memuji materinya, terutama dua pemeran utama, Dylan Minnette dan Katherine Langford. Serial ini juga menarik kontroversi mengenai penggambaran grafis serial yang menceritakan seperti bunuh diri, pemerkosaan dan konten dewasa lainnya. Pada Mei 2017 telah diumumkan mengenai musim kedua yang akan perdana pada tahun 2018.[5]

sinopsis :

Clay Jensen pulang dari sekolah dan menemukan kotak misterius yang tergeletak di teras rumahnya. Di dalamnya, ia menemukan tujuh kaset, kaset dua sisi yang direkam oleh Hannah Baker, teman sekelas dan orang yang dia sukai, yang secara tragis bunuh diri dua minggu sebelumnya. Di kaset, Hannah membuka buku harian audio emosional, merinci tiga belas alasan mengapa dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Instruksinya jelas: setiap orang yang menerima paket adalah salah satu alasan mengapa dia bunuh diri, dan setelah setiap orang selesai mendengarkan kasetnya, mereka harus mengoper paketnya kepada orang berikutnya. Jika ada yang memutuskan untuk melepas rantai itu, maka satu set kaset terpisah akan disebarkan ke publik. Setiap rekaman ditujukan kepada orang terpilih di sekolahnya dan rincian keterlibatan mereka dalam bunuh diri Hannah Baker.